Bahasa ‘Kasar’ Gen Z dan Alpha: Degradasi Moral atau Sekadar Gaya Komunikasi?

 

Oleh Fathimah Nadia Qurrota A’yun, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Walisongo

Setiap zaman memiliki gaya komunikasinya masing-masing. Namun, cara berkomunikasi generasi Z (kelahiran 1997-2012) dan generasi Alpha (kelahiran 2012-2025) kini menjadi sorotan, terutama karena masifnya penggunaan kata-kata yang secara tradisional dianggap “kasar”. Apakah ini murni degradasi moral? Ataukah ada pergeseran makna, niat, dan fungsi komunikasi yang perlu kita pahami secara lebih dalam sebelum memberi penilaian?

Dekonstruksi Makna: Ketika Umpatan Menjadi Penanda Keakraban
Dalam ajaran Islam, lisan adalah amanah yang harus dijaga. Prinsip dan etika komunikasi seperti Qaulan Sadida (ucapan yang benar), Qaulan Ma’rufa (ucapan yang baik), Qaulan Karima (ucapan yang mulia), Qaulan Balighan (ucapan yang lugas), Qaulan Maisuran (ucapan yang mudah dipahami), Qaulan Layyinan (ucapan yang lemah lembut) menjadi pedoman utama agar manusia menghindari ucapan-ucapan yang merugikan. Namun, di lapangan, kita melihat kata-kata yang jauh dari etika komunikasi dan tidak ada untungnya jika diucapkan, justru malah digunakan secara cair oleh generasi muda terutama Gen Z dan Gen Alpha.

Fenomena pergeseran makna dan fungsi menjadi alasan utama frasa-frasa “kasar” ini muncul di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Kata yang biasa dikenal sebagai umpatan seperti “anjing” telah berevolusi menjadi “anjir, anjay, anjoy, anying, njir, nying” dan sejenisnya. Istilah-istilah ini tidak lagi selalu dimaknai sebagai hinaan atau umpatan, melainkan telah beralih fungsi menjadi ekspresi spontan untuk menunjukkan keterkejutan, kekaguman, kebanggaan, bahkan sebagai penyemangat.

Di beberapa kelompok sosial, sapaan “cuk, bangsat, ndes, dab” justru menjadi tanda keakraban dan solidaritas pertemanan. Penggunaannya pun dilandasi oleh ekspresi emosional yang spontan dan rasa keakraban di lingkungan sosial mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z dan Gen Alpha seakan memaknai niat di balik ucapan dan konteks pergaulan menjadi lebih penting daripada makna harfiah sebuah kata karena jika secara esensi, kata-kata ini telah terlepas dari makna harfiahnya dan bertransformasi menjadi penanda emosi dan relasi sosial.

Bagaimana Fenomena Ini Menyebar?
Penyebaran masif bahasa ini dapat dijelaskan menggunakan perspektif Komunikasi yakni melalui teori Difusi Inovasi dari Everett Rogers. “Inovasi” dalam konteks ini adalah penggunaan bahasa kasar dengan makna dan fungsi yang baru. Prosesnya dimulai dari tahap pengetahuan, di mana Gen Z dan Gen Alpha terpapar bahasa “kasar” melalui media sosial dan lingkungan pergaulan kemudian, masuk ke tahap persuasi. Mereka melihat teman sebaya atau influencer menggunakannya sebagai penanda keakraban, sehingga muncul keyakinan bahwa ini adalah cara komunikasi yang “keren” atau wajar. Setelah itu, mereka memutuskan untuk mencoba (adopsi), menggunakannya dalam percakapan sehari-hari (implementasi), dan akhirnya mendapat penguatan dari lingkungan sosial mereka (konfirmasi), yang membuat perilaku ini menjadi norma.

Kesenjangan Nilai dengan Etika Komunikasi Islam
Meskipun Gen Z dan Gen Alpha memaknainya secara berbeda, terdapat kesenjangan nilai (gap value) yang signifikan dengan prinsip etika komunikasi dalam Islam. Ajaran Islam secara tegas menuntun umatnya untuk menjaga lisan melalui prinsip-prinsip seperti Qaulan Kariman (perkataan yang mulia/santun), Qaulan Layyinan (perkataan yang lemah lembut), Qaulan Ma’rufan (perkataan yang baik dan pantas), Qaulan Balighan (ucapan yang lugas), Qaulan Maisuran (ucapan yang mudah dipahami), Qaulan Layyinan (ucapan yang lemah lembut).

Menariknya, sebagian besar gen Z dan gen Alpha sebenarnya sadar bahwa kata-kata seperti “anjir” dan sejenisnya termasuk ucapan yang kasar, tidak sopan dan tidak sesuai dengan prinsip komunikasi Islam. Namun, kuatnya pengaruh lingkungan sosial dan pergaulan membuat norma kelompok lebih dominan daripada nilai etika keagamaan yang mereka pahami.

Menjembatani Jurang Komunikasi
Fenomena ini bukanlah sekadar degradasi moral, melainkan sebuah dinamika sosial, budaya, dan komunikasi yang kompleks. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya akan memperlebar jurang komunikasi antar generasi. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah literasi etika komunikasi yang komprehensif. Bagi orang tua, pendidik, pemuka agama, senior, dan semua pihak seharusnya mencari cara bagaimana untuk menjembatani kesenjangan ini secara konstruktif. Diperlukan pendekatan dialogis yang memahami budaya Z dan Alpha, bukan sekadar melarang tanpa alasan. Edukasi mengenai pentingnya memilih diksi yang baik dan pantas, yang selaras dengan nilai-nilai kesantunan universal dan ajaran agama, menjadi kunci untuk membimbing mereka mengembangkan pola komunikasi yang lebih bijak.